Umur manusia memang hanya Tuhan yang mengetahuinya.

Malahan orang yang terlihat baik-baik saja malahan lebih dulu dipanggil oleh sang pencipta dengan berbagai macam sebab yang sudah diskenariokan oleh Tuhan.

Seperti pengalaman seorang dokter di salah satu rumah sakit yang menolong korban kecelakaan yang terluka parah diantar oleh bapaknya.

Pasien yang terluka parah itu pun berhasil ia tolong setelah dilakukan operasi.

Namun, sang dokter pun kaget saat akan menceritakan kondisi pasien yang berhasil ditolongnya kepada orangtua korban.

dr Gia Pratama memang kerap kali berbagi pengalaman di akun media sosial twitternya @GiaPratamaMD usai menangani sejumlah pasien yang ditanganinya.

Kali ini ia menceritakan pengalaman tak terduga yang ia alami usai berhasil selamatkan korban kecelakaan.

“Sore itu nampaknya akan menjadi sore yg panjang untuk saya, pasien IGD tidak berhenti2 dengan segala kondisi, bahkan sore itu saya melakukan hal2 yg belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Seperti menusuk perut bagian bawah pasien yg tdk bisa pipis dan berkali2 gagal saat mau dipasang selang urin. “Dookk, terserah dookk diapain aja saya rela” teriaknya ketika saya minta ijin untuk menusuk. “Saya udh ga kuaatt..”

Kandung kemihnya sudah teregang full bahkan saya bisa melihatnya menonjol di perut bagian bawah sehingga tampak seperti ibu yg sedang hamil muda. Kita semua mengerti penderitaannya, krna kita semua pernah kebelet tp terpaksa menahan pipis beberapa menit. Ini 2 hari.

Jreepp! Saya tusukkan jarum besar kanul, setelah saya disinfeksi kulit sekitar. segera saya pasang kateter urin. Dan mengalirlah cairan urin hampir 2 liter memenuhi urin Bag. “Hhhhhhhhh legaaaaa” suara si bapak diiringi senyum lebarnya “hatur nuhun dok..”

Baru beres, tiba2 perawat “Dok, pasieen!” Saya nengok ke pintu masuk ada seorang bapak paruh baya yg wajah dan tangannya penuh darah sedang membopong anaknya yg umur 20an berjalan hanya bertumpu satu kaki, dengan kaki lain menjuntai ke sisi yg salah. Situs Resmi Poker DominoQQ BandarQ Online Terpercaya

Saya lari utk bantu bopong, “tolongin anak saya dulu dok, anak saya dulu!”. Poe lgs memegang bpk itu,”baik pak tenang aja,bpk sudah sampe IGD”. “Poe cek pendarahannya”. Saya bawa anak ini ke ruang tindakan, sudah pucat sekali.

“Saya jatuh dari motor dok. Udh dua jam dipinggir jalan, baru ada mobil bak yg lewat akhirnya mengangkut kami dan motor kami” Poe dengan sigap mengecek tanda2 vital dan membersihkan luka bapak tersebut. Saya cek anaknya. Domino99

“Poe, lo bisa handle itu?” Sambil saya nunjuk luka panjang di tangan bapak. “Bisa! Ini gw jait nanti, sekalian sama yg di pelipisnya”. Good, saya bisa fokus sama anak ini skrg. Kondisinya berat. Tulang pahanya teraba patah total, membuat kaki kanannya tampak lebih pendek. BandarQ

Tensinya turun, pendarahan dalamnya cukup banyak, perkiraan sampai 2 liter. Saya pasang infus dan kateter urin. Saya suntikkan obat2 anti pendarahan dan obat nyeri. Lalu saya segera pesan darah dari PMI. Saya genggam tangan anak itu “Sing kuat nyak” dia menggangguk. QQOnline

Singkat cerita,bpk itu masuk ruang rawat inap dengan diagnosa cedera kepala ringan, dan anaknya masuk dengan diagnosa fraktur tertutup os femur dekstra dan siap dioperasi.

Menuju ruang operasi,bapak itu genggam tgn saya,”tolongin anak saya ya dok”.Saya tersenyum dan menggangguk.

Dokter bedah tulang di rsud garut itu cool banget, ganteng dan bertangan dingin. Salah satu dokter paling disegani di garut. Beliau sdh siap di Ruang o.k saat saya masuk bersama pasien. “Ini buat pasien ujian km ya gia” kata beliau mengagetkan saya smbil jalan mnuju ruang ganti. Bandar Sakong

Saya bener2 kaget, tapi sedikit senang karena saya menangani dari sejak IGD. Saya tau dari awal kondisi anak ini. “Baik dok, saya siapkan semuanya setelah selesai operasi”. Saya segera ganti baju, cuci tangan dan pake baju operasi.

Ruang Bedah tulang itu tersendiri, tempatnya penuh sama alat2 yg tdk biasa bagi bedah umum. Tapi sangat biasa buat tukang mebel. Disana ada Bor mesin, ada Obeng, ada Palu, ada Mur, ada Baut, ada kawat dan ada plat baja segala ukuran seru.

Pasien sudah di bius. Beliau melihat gambaran rontgen sebentar lalu bilang”kita mulai ya”. Beliau menyayat sisi luar paha pasien, terus menyayat sampe terlihat patahan tulang yg bertumpuk tidak sejajar, “gia, liat ini. Ga bisa kita pasang plat, hrs kita tarik dulu”

Kita coba menarik kakinya ke belakang. Dibutuhkan tenaga tiga orang, saya dan 2 perawat untuk mengalahkan otot pahanya. Konsulen berdiri tegak menatap lubang operasi memegang clamp tulang yg besar, sambil teriak2, “ayooo teruss, teruusss! Dikit lagi ayo” mirip suporter bola.

Tiba2,”Yakk! Stoopp!” Beliau seketika langsung menjepit menyatukan dua sisi patahan dengan clamp tulang. “Sip, bagus” sambil ngasih jempol ke saya dan 2 perawat yg sudah keringetan kayak baru aja menang tarik tambang.

Beliau pasang plat baja sesuai ukuran patahan, mengambil bor lalu ZzziinngG suara bornya siap bekerja. Beliau mengebor lubang2 plat baja tersebut. “Gi, ambil 4 baut femur, sm mur. Nih coba kamu pasang 2”. Saya ambil obeng lalu membaut plat ke lubang bor tadi.

Saya semangat bgt muter2in obeng saya, seumur2 mana pernah kebayang membaut tulang orang. “Gia, jgn lupa pantau pendarahannya”. Kata beliau mengingatkan. Setelah tulang lurus kembali, pendarahan berhenti, luka operasi pun dijahit.

Pasien ini akan pake tongkat untuk sementara waktu, tapi yg pasti saya sudah memenuhi janji saya ke bapak untuk nolongin anaknya. Saya mendorong pasien dengan senyum happy, riang gembira menuju ruang rawat dimana saya bisa menceritakan operasi tadi ke bpknya

Sampe ruang rawat saya liat kok byk prwt dan koas kumpul di ruangan bpk itu,”ada apa ini?!” Saya tanya sambil lari menyeruak kerumunan utk smpe sebelah bapak “Bapaknya tadi abis keluar dari kamar mandi jatuh tiba2 ga sadar gi,ga keraba denyut nadinya,kemungkinan serangan jantung”

“Ayo RJP!” Saya teriak sambil narik teman saya untuk begging pompa oksigen ke mulutnya. Saya pompa jantungnya terus menerus tidak berhenti, 1 siklus, 2 siklus, 3 siklus, “ayoo pak, bertahan.. ” 4 siklus, 5 siklus, saya sudah mulai kehabisan nafas.

Tiba2 teman saya menarik saya, “Gi, Gi! Udh gi, cukup! Tadi kita udh rjp juga, udh! Pupilnya udh midriasis maksimal. Bapak udh ga ada gi” saya terjatuh berlutut disamping tempat tdrnya sambil menatap bpk tdk percaya. “Pak, anak bpk selamat pak, anak bapak sehat..”

Setetes air mata keluar membasahi pipi saya. “Innalillahiwainnailaihiroji’un”

Stase bedah memang ga jauh dari kondisi jurang kematian. Kadang kita merasa sebagai pagar ditepi jurang yang menahan orang2 jatuh menuju kehidupan kekal yg tdk memiliki jalan kembali. Apakah kita berhasil mencegah semua org tidak terjatuh? Tentu tidak.

Kadang dtg pasien dengan kondisi seperti bola salju yg menggelinding terus membesar, memburuk, memberat kondisinya. Dimana kita berusaha sekuat tenaga menahan laju Bola Salju itu dengan segala cara dan dgn segala hal yang kita miliki.

Bola salju raksasa itu akan tetap menembus pagar bahkan bisa merusaknya, kita hanya bisa diam dan melihatnya jatuh menjauh dan menjauh.

Disaat itulah nampak jelas keterbatasan kita sebagai dokter. We are just human in the midst of chaos and calamity. sebagai manusia yang tidak berhak dan tidak akan mampu untuk tinggi hati mengatakan diri sebagai Sang penakluk kematian.

Kita menjadi sangat amat sadar bahwa usia itu memang di tanganNya. Begitu pula rejeki dan jodoh.

Seperti yg Allah katakan pada Surat An-Nahl Ayat 61

“..fa-idzaa jaa-a ajaluhum laayasta/khiruuna saa’atan walaa yastaqdimuuna”

Artinya: “..Apabila telah tiba waktunya bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Sehingga tugas kita yang masih hidup ini hanyalah berdoa dan terus berusaha mencari RidhoNya, memantaskan diri sehingga Allah mau memberikan kita Usia yg panjang dan penuh berkah, Rezeki halal yg berlimpah dan Jodoh yang indah lagi mengindahkan.”  begitulah cuitan terakhir dr Gia diakun twitternya @GiaPratamaMD pada Jumat (26/1/2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here